ALF House
Orang yang sering bepergian biasanya paling paham arti pulang. ALF House, rumah bergaya American Farmhouse dua lantai di Tangerang Selatan, lahir dari cara pandang seperti itu.
Pemiliknya sepasang suami istri yang gemar melakukan perjalanan, baik di dalam maupun ke luar negeri. Kesan yang mereka bawa dari perjalanan itulah yang kemudian menentukan wajah rumahnya.
Gaya rumah pertanian khas Amerika dipilih karena mengingatkan mereka pada suasana yang pernah dijumpai di sana. Nuansanya tenang dan lapang, jauh dari hiruk pikuk kawasan penyangga ibu kota tempat rumah ini berdiri.
Lahannya seluas 420 m² di kawasan BSD City. Ukuran itu memberi keleluasaan yang jarang didapat di kawasan sepadat sekitarnya.
Kelapangan tersebut tidak dihabiskan untuk memperbesar bangunan. Luas lantainya justru berhenti di 406 m², karena sisa lahan sengaja disimpan untuk taman.
Fasad American Farmhouse di Tengah Kawasan Padat

Susunan atap pelana curam dan dinding papan putih menjadi penanda paling menonjol dari jalan.
Dari jalan, rumah ini langsung terbaca berbeda dari deretan rumah di sekitarnya. Susunan atap pelana bertumpuk dengan kemiringan curam menjadi penanda yang paling menonjol.
Dinding papan horizontal bertone putih melapisi hampir seluruh muka bangunan. Tekstur papan inilah yang menjadi ciri paling melekat pada rumah American Farmhouse, sekaligus yang membuatnya terasa ringan di mata.
Lubang angin berkisi pada puncak tiap pelana bukan sekadar hiasan. Bagian itu meloloskan panas yang terkumpul di bawah atap, hal yang justru sangat berguna di iklim seperti Indonesia.

Jendela tinggi berbingkai putih tebal disusun berirama di kedua lantai.
Jendela-jendela tinggi berbingkai putih tebal disusun berirama di kedua lantai. Proporsinya yang ramping menegaskan ketinggian bangunan tanpa membuatnya terlihat menjulang berlebihan.
Teras depan dinaungi atap pelana kecil yang ditopang kolom putih. Bagian ini menjadi ruang transisi yang lazim ditemui pada rumah pedesaan Amerika, tempat singgah sebentar sebelum masuk ke dalam.
Pagar putih berjeruji rendah membatasi halaman tanpa menutup pandangan. Di baliknya, tanaman hias rendah dan pohon palem menyegarkan tampilan muka bangunan.
Carport terbuka di sisi kanan menyatu dengan garis atap utama. Penempatannya menyisakan ruang halaman yang cukup untuk vegetasi di sisi depan.
Taman dengan Kolam sebagai Pusat Ketenangan

Air mancur kecil di kolam menghadirkan gemericik yang menyamarkan kebisingan dari luar pagar.
Bagian yang paling banyak menyerap perhatian justru bukan bangunannya, melainkan tamannya. Di sinilah gagasan tentang tempat pulang itu benar-benar diwujudkan.
Kolam ikan berbatu putih menjadi titik tengah taman. Air mancur kecil di dalamnya menghadirkan suara gemericik yang menyamarkan kebisingan dari luar pagar.
Jembatan kayu melengkung menyeberangi kolam menuju gazebo berkolom putih. Gazebo itu berlantai kayu dengan pagar jeruji, cukup untuk duduk berdua di sore hari.

Dinding pembatas diubah menjadi bidang hijau agar tidak terasa menekan.
Dinding pembatas di belakangnya diubah menjadi taman vertikal. Tanaman rambat dan bunga disusun pada bidang bergaris tinggi, ditemani lampu dinding bergaya klasik.
Warna putih pada gazebo dan bidang dinding sengaja diteruskan dari bangunan utama. Kesinambungan itu menjaga taman tetap terbaca sebagai bagian dari rumah American Farmhouse, bukan tempelan yang berdiri sendiri.
Pilihan itu menyelesaikan masalah yang khas di lahan perkotaan. Dinding tetangga yang biasanya terasa menekan berubah menjadi latar hijau yang enak dipandang.
Pendekatan menghadirkan suasana pedesaan di tengah kota seperti ini banyak ditempuh di berbagai tempat. Beragam penerapannya bisa ditelusuri lewat berbagai referensi media arsitektur yang kerap mengulas hunian bergaya serupa.
Interior Hangat Berbalut Bata Ekspos

Bingkai bata menandai peralihan antara ruang duduk, ruang makan, dan dapur tanpa memutus pandangan.
Suasana di dalam rumah dibangun dengan bahan yang jujur. Bata ekspos, lantai kayu, dan plafon bersirip gelap berpadu menjadi latar yang hangat.
Ruang keluarga, ruang makan, dan dapur disusun menyatu tanpa sekat masif. Bingkai bata di antara keduanya menandai peralihan area tanpa memutus pandangan.
Sofa besar bertone terang menghadap kabinet televisi berbahan kayu. Rak besi terbuka di sisinya menyimpan barang koleksi yang mengingatkan pada perjalanan penghuninya.

Jendela tinggi membawa cahaya sekaligus pemandangan taman ke dalam ruang duduk.
Tangga berpagar putih dengan jeruji kayu berdiri di dekat ruang duduk. Bentuknya sederhana dan meneruskan bahasa American Farmhouse dari luar ke dalam rumah.
Jendela tinggi berbingkai putih membawa cahaya sekaligus pemandangan taman ke ruang keluarga. Dari sofa, kolam dan tanaman hijau di luar tetap terlihat sepanjang hari.
Tiga kamar tidur dan tiga kamar mandi tersebar di dua lantai. Jumlahnya tidak banyak karena porsi terbesar memang dialihkan untuk ruang bersama dan taman.
ALF House: Rumah yang Menunggu Kepulangan
Membawa gaya American Farmhouse ke iklim tropis menuntut penyesuaian, bukan penyalinan mentah. Atap curam, lubang angin, dan teras beratap justru bekerja baik untuk hujan deras dan panas siang.
Rumah ini akhirnya bukan tentang meniru tempat yang jauh. Ia tentang menyimpan kesan dari perjalanan panjang lalu meletakkannya di tempat yang paling sering dituju, yaitu rumah sendiri.
Rumah yang dirancang dari pengalaman hidup pemiliknya selalu punya cerita yang tidak bisa disalin. Bila Anda menyiapkan hal serupa, kenali dulu siapa yang akan mendampingi prosesnya lalu telusuri pilihan layanan beserta biayanya.